
KRESEK — FaktaDataNews 》Banjir yang merendam Jalan Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, hingga Selasa (6/1/2026), tak hanya menyisakan dampak kerusakan dan keresahan warga.
Di tengah genangan air yang belum juga surut, kondisi darurat ini justru berubah menjadi “wisata air” dadakan yang dipadati warga, terutama anak-anak.
Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan warga memadati akses jalan penghubung antara Desa Pasir Ampo dan Desa Koper yang masih tergenang.
Menjelang sore, suasana tampak kontras dengan kondisi bencana. Gelak tawa dan sorak-sorai terdengar, seolah banjir tahunan tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas warga.Anak-anak mendominasi area genangan.
Mereka bermain air di pinggir jalan, berenang di sawah yang berubah menyerupai kolam, hingga melompat dari jembatan kecil dengan berbagai gaya akrobatik, disambut tepuk tangan dan sorakan teman-temannya.
Bagi warga Desa Pasir Ampo, luapan Sungai Cidurian bukan lagi kejadian luar biasa. Banjir tahunan ini memaksa warga beradaptasi, meski risiko kesehatan dan keselamatan terus mengintai.
“Memang di sini tiap tahun kalau banjir. Jadi sudah biasa, malah kayak wisata dadakan, banyak yang main air dan nonton,” ujar Maemunah (43), warga setempat.
Meski terlihat santai, kekhawatiran tetap membayangi. Maemunah mengaku datang ke lokasi hanya untuk menemani anaknya yang masih balita dan ingin ikut bermain air.
“Khawatir pasti ada, takut gatal-gatal. Tapi namanya anak, ngambek pengen berenang gratis,” katanya sambil tersenyum.
Di balik keramaian, kondisi ini juga dimanfaatkan sebagian warga untuk mencari tambahan penghasilan. Sejumlah pedagang jajanan terlihat menggelar lapak di sekitar lokasi banjir.
“Lumayan jualan di sini. Biasanya habis 100 cireng, sekarang bisa 120 sampai 150. Pendapatan jadi naik,” tutur Suheli, pedagang cireng.
Menjelang matahari terbenam, genangan air mulai berangsur surut. Warga pun perlahan meninggalkan lokasi yang sebelumnya menjadi arena bermain air darurat.
Namun di balik tawa anak-anak, banjir tahunan ini kembali menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan warga harus berdamai dengan luapan sungai yang terus berulang tanpa solusi permanen?
(Wendi)
