Dihantam Cuaca Ekstrem, Pesisir Pandeglang Tercemar Sampah dan Kayu Gelondongan

PANDEGLANG – FaktaDataNews 》Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Selat Sunda dalam beberapa hari terakhir berdampak serius terhadap kawasan pesisir Kabupaten Pandeglang, Banten.

Salah satu dampak paling nyata terlihat di Kecamatan Labuan, di mana tumpukan sampah plastik, limbah rumah tangga, hingga kayu gelondongan berukuran besar terdampar di sepanjang pantai, Senin (5/1/2026).

Pantauan di lapangan menunjukkan, hamparan sampah dan kayu gelondongan tersebar di sejumlah titik pesisir selatan Pandeglang, mulai dari Pantai Batako, Pantai Bentengan, hingga Pantai Laguna.

Material tersebut diduga kuat terbawa arus laut yang menguat akibat gelombang tinggi, serta kiriman dari sungai-sungai yang meluap menyusul meningkatnya intensitas hujan.

Kondisi ini tidak hanya mencemari lingkungan pesisir, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan.

Tumpukan sampah dan kayu berukuran besar menghambat pergerakan perahu serta berpotensi merusak jaring dan alat tangkap ikan.

Syamsul (43), nelayan asal Kampung Sumurkopo, Kecamatan Labuan, mengaku kesulitan melaut akibat sampah yang kerap tersangkut di jaring.

Ia harus menghabiskan waktu lebih lama untuk membersihkan alat tangkap sebelum bisa kembali beroperasi.

“Jelas mengganggu. Sampah ini sering menyangkut di jaring, kita jadi kewalahan,” ujar Syamsul usai melaut.

Menurutnya, sebelum cuaca ekstrem melanda Selat Sunda, kondisi pantai relatif bersih.

Namun gelombang besar dan angin kencang membuat berbagai jenis sampah kembali menumpuk di pesisir, termasuk kayu gelondongan berukuran besar.

“Ini sejak cuaca buruk kemarin. Ombak besar, angin kencang, sampah dan kayu naik lagi ke pantai,” katanya.

Syamsul menduga kayu-kayu tersebut bukan berasal dari wilayah Labuan, melainkan terbawa arus laut dari daerah lain di sekitar Selat Sunda.

“Kalau dari sini tidak mungkin. Kayu ini datang sendiri terbawa arus, dari mana asalnya kita juga tidak tahu,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Usep (52), nelayan asal Kampung Karet, Desa Teluk, Kecamatan Labuan.

Ia mengatakan kayu-kayu besar mulai terdampar sejak malam hari saat gelombang laut meninggi.

“Kemarin malam datangnya, terbawa ombak ke sini,” kata Usep.

Ia menilai peristiwa terdamparnya kayu gelondongan dalam jumlah besar tergolong jarang terjadi.

Bahkan selama puluhan tahun melaut, Usep mengaku baru pertama kali mengalami kondisi tersebut.

Sementara itu, petugas Balawista Kabupaten Pandeglang, Suryadi, menyebut kayu-kayu gelondongan mulai terdampar sejak Sabtu (3/1/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, seiring membesarnya gelombang laut.

Saat itu, kondisi pantai relatif sepi pengunjung karena cuaca buruk membuat wisatawan enggan mendekat ke pesisir.

“Jenis kayu yang terdampar cukup beragam, mulai dari kayu jeng-jeng, mahoni, hingga meranti. Sebagian kayu sudah dimanfaatkan warga untuk kayu bakar dan bahan bangunan sederhana,” jelasnya.

Hingga kini, belum ada laporan resmi ke BPBD maupun instansi terkait terkait penanganan tumpukan sampah dan kayu gelondongan tersebut.

Para nelayan berharap pemerintah daerah segera melakukan pembersihan pesisir serta menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem susulan di wilayah Selat Sunda.

(Om Dan SJTR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *