“Dzikir di Bawah Tenda Perlawanan: Ormas, LSM, Mahasiswa, dan Rakyat Kecil Menangis Bersama di Depan Alun-alun Rangkasbitung Demi Nasib Warga Cigobang”

Rangkasbitung – FaktaDataNews 》15 Januari 2025 — Di bawah bentangan tenda sederhana yang berdiri kokoh di depan Alun-alun Rangkasbitung, suasana malam berubah khidmat dan penuh haru.

Doa dan dzikir bersama menggema menembus sunyi, menyatu dengan harapan dan luka rakyat kecil.

Aksi spiritual ini digelar sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan untuk warga Cigobang, yang hingga hari ini masih berjuang mendapatkan kepastian hidup yang layak pascabencana.

Kegiatan doa dan dzikir tersebut diikuti oleh berbagai elemen masyarakat lintas organisasi dan profesi. Terlihat hadir Ormas Badak Banten, LSM GMBI, Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten), kalangan mahasiswa, wartawan, serta perwakilan warga Hunian Sementara (Huntara).

Mereka duduk bersila di bawah tenda perjuangan, menanggalkan ego dan kepentingan, menyatukan doa demi satu tujuan: keadilan dan kemanusiaan bagi warga Cigobang.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan dzikir mengalir perlahan namun menghujam nurani. Isak tangis perwakilan warga Huntara sesekali pecah, mencerminkan penderitaan panjang yang belum juga berujung.

Tenda di depan Alun-alun Rangkasbitung itu kini menjelma menjadi simbol perlawanan sunyi, tempat doa dipanjatkan dan nurani kekuasaan diuji.

Presidium Forwatu Banten, Arwan, dalam keterangannya menegaskan bahwa dzikir ini adalah bentuk jeritan moral rakyat.

“Ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ini adalah jeritan nurani. Ketika suara warga Cigobang tidak lagi terdengar di ruang-ruang kebijakan, maka kami memilih mengetuk langit. Mereka manusia bermartabat, bukan angka statistik bencana. Negara tidak boleh absen dan tidak boleh menunda-nunda keadilan,” tegas Arwan.

Sementara itu, Ketua LSM GMBI, King Naga, menyampaikan pernyataan keras namun sarat makna, yang langsung menyentil nurani publik dan pemerintah.

“Kami dari LSM GMBI berdiri di sini bukan untuk pencitraan, tetapi untuk menegaskan bahwa penderitaan warga Cigobang adalah kegagalan kolektif jika dibiarkan berlarut. Enam tahun lebih sebagian warga hidup dalam kondisi tidak layak, sementara anggaran dan proyek terus berjalan. Ini bukan soal bencana semata, ini soal keberpihakan. Negara harus hadir secara nyata, bukan hanya dengan janji dan seremonial,” ujar King Naga dengan nada tegas.Ia menambahkan, doa dan dzikir ini adalah pengingat bahwa kesabaran rakyat ada batasnya.

“Jika suara rakyat terus diabaikan, maka doa akan menjadi tuntutan paling jujur. Tenda ini adalah simbol perlawanan bermartabat. Selama warga Cigobang belum mendapatkan haknya, kami akan terus berada di barisan rakyat, mengawal, menekan, dan bersuara,” tandasnya.

Aksi doa dan dzikir bersama ini menjadi peringatan moral yang kuat namun beradab.

Mahasiswa dan aktivis yang hadir menegaskan bahwa perjuangan tidak akan berhenti pada kegiatan spiritual semata, melainkan akan dilanjutkan dengan advokasi dan pengawalan kebijakan.

Doa dijadikan fondasi, aksi dijadikan jalan.Kehadiran wartawan dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa jeritan rakyat tidak boleh tenggelam dalam sunyi.

Media diharapkan menjadi corong kebenaran, menyuarakan realitas pahit yang kerap terpinggirkan oleh gemerlap pembangunan.

Dzikir di bawah tenda ini adalah alarm nurani publik.Doa dan dzikir bersama di depan Alun-alun Rangkasbitung ini menegaskan satu pesan penting: Cigobang bukan isu lokal, melainkan cermin wajah keadilan sosial di negeri ini.

Selama tenda masih berdiri dan doa terus dilantunkan, perjuangan kemanusiaan untuk warga Cigobang akan terus menyala.

(Wendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *