
Lebak – FaktaDataNews 》Banjir yang melanda Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, selama dua pekan terakhir mengakibatkan 164 hektare lahan persawahan terendam, dengan 50 hektare di antaranya dinyatakan puso atau gagal panen. Dampak terparah terjadi di Desa Cisangu dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah serta masyarakat setempat.
Kepala Bidang Bina Usaha dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Irwan Riyadi, mengatakan lahan terdampak tersebar di Desa Cisangu, Cimenteng Jaya, Panancangan, dan Bojongcae. Dari total tersebut, Desa Cisangu menjadi wilayah terdampak terluas dengan sekitar 101 hektare sawah tergenang.

“Sebagian genangan air sudah mulai surut, namun sekitar 50 hektare mengalami kerusakan parah sehingga tidak bisa dipanen,” kata Irwan, Selasa (6/1/2026).
Sebagai langkah penanganan, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk mengajukan bantuan benih padi pengganti bagi lahan yang dinyatakan puso.
Selain itu, petani juga didorong untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) melalui PT Jasindo agar mendapatkan kompensasi jika mengalami gagal panen.
Irwan menjelaskan, banjir tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga dipicu oleh saluran drainase yang tersumbat serta pendangkalan sungai.
Ia mengimbau para petani agar aktif melaporkan kondisi sawahnya melalui penyuluh pertanian setempat sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Dengan sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, dampak bencana pertanian bisa ditekan dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” ujarnya.
Dampak banjir juga dirasakan langsung oleh para petani. Ujang Komarudin, petani asal Desa Cisangu, mengungkapkan bahwa 10 petak sawah miliknya mengalami kerusakan total akibat terendam banjir.
“Kalau sudah terendam lama, padi itu jadi seperti bubur lagi, jadi tanah lagi. Batangnya masih ada, tapi buahnya tidak menghasilkan, putih-putih,” kata Ujang.
Ia memperkirakan kerugian biaya produksi mencapai Rp20 juta.
Kondisi serupa dialami sekitar 30 petani lain di wilayah tersebut.Sementara itu, Kepala Desa Cisangu, Doli, menyebut banjir merupakan kejadian berulang yang hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.
Menurutnya, aliran buangan dari beberapa desa sekitar, termasuk wilayah Warunggunung, turut mengalir ke Desa Cisangu yang posisinya berada di bagian hilir.
“Banjir ini sudah sering terjadi. Aliran buangan dari beberapa desa masuk ke wilayah kami karena posisi desa berada di sisi bawah,” jelas Doli.
Dari total sekitar 115 hektare lahan persawahan di Kecamatan Cibadak, sekitar 75 hektare terdampak banjir. Padahal, dalam kondisi normal, hasil panen padi di wilayah tersebut bisa mencapai 5–6 ton per hektare.
Doli menegaskan bahwa normalisasi sungai menjadi solusi paling mendesak untuk mencegah banjir berulang.
“Solusinya sebenarnya sederhana, yakni normalisasi kali. Kami berharap pihak terkait segera menindaklanjuti karena ini cukup efektif untuk mengurangi dampak banjir,” pungkasnya.
Pemerintah desa, lanjut Doli, terus berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi agar langkah penanganan jangka panjang segera direalisasikan sehingga kerugian petani tidak semakin meluas.
(Om Dan SJTR)
