
Banten – Cilegon – FaktaDataNews 》Upaya pelestarian budaya lokal Banten kembali menguat. Anggota DPR RI Komisi X sekaligus Majelis Tinggi Dewan Pengurus Pusat Pencak Silat Bandrong Indonesia, Furtasan Ali Yusuf, mendorong Kementerian Pendidikan agar pencak silat Bandrong dan Bahasa Jawa Banten masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional, bahkan dikembangkan sebagai program studi di perguruan tinggi.
Dorongan tersebut disampaikan Furtasan saat menghadiri kegiatan kebudayaan di Kota Cilegon, Minggu (28/12/2025).
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk penyelamatan warisan budaya lokal yang saat ini terancam tergerus perkembangan zaman dan minimnya regenerasi.
“Insyaallah mulai tahun 2026 kita dorong supaya ada standar. Ini semua tergantung pada keseriusan kita bersama, karena ini bagian dari penyelamatan budaya,” ujar Furtasan.
Selain pencak silat Bandrong, Furtasan juga menyoroti menurunnya penggunaan Bahasa Jawa Banten, khususnya di kalangan generasi muda.
Padahal, bahasa tersebut merupakan bahasa ibu masyarakat Banten yang mengandung nilai historis, filosofis, dan identitas kultural yang kuat.
“Bahasa itu juga bagian dari budaya kita. Kalau tidak ada pelestarian, lama-lama akan hilang. Ini bahasa ibu kita, tapi anak-anak sekarang sudah jarang menggunakannya. Itu yang membuat saya gundah,” ungkapnya.
Menurutnya, pelestarian bahasa daerah tidak cukup berhenti pada wacana atau seremoni budaya.
Diperlukan strategi nyata dan gerakan kolektif yang menyentuh ruang pendidikan, sosial, hingga keagamaan. Salah satu gagasan konkret yang diusulkan adalah penggunaan Bahasa Jawa Banten dalam khutbah Jumat di masjid-masjid.
“Bagaimana caranya supaya jangan punah? Harus ada strategi dan gerakan. Misalnya, khutbah Jumat di masjid-masjid menggunakan Bahasa Jawa Banten,” tegasnya.
Lebih lanjut, Furtasan menekankan peran strategis dunia pendidikan sebagai fondasi pelestarian jangka panjang. Ia mendorong sekolah hingga perguruan tinggi di Banten untuk membuka program khusus pencak silat Bandrong dan Bahasa Jawa Banten.
“Perguruan tinggi harus membuka program atau jurusan itu. Di Banten belum ada. Saya berharap Untirta sebagai perguruan tinggi negeri di Banten bisa menjadi pelopor dengan membuka jurusan Bahasa Banten, agar pelestariannya berkelanjutan,” pungkasnya.
Dorongan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pelestarian budaya lokal membutuhkan keberpihakan kebijakan negara, bukan semata mengandalkan komunitas.
Dengan dukungan regulasi dan pendidikan formal, warisan leluhur diharapkan tidak hanya dikenang, tetapi tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi masa depan
(wnd)
