Rupiah Melemah 18 Poin, Pasar Waspadai Gejolak Ekonomi dan Politik AS

Jakarta – FaktaDataNews 》Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis sore, 8 Januari 2026. Rupiah ditutup melemah di level Rp16.798 per dolar AS, dipicu sentimen eksternal terutama data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perbaikan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah melemah 18 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.780. Bahkan, pada sesi perdagangan intraday, rupiah sempat tertekan hingga 25 poin.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 18 poin, sebelumnya sempat melemah 25 poin di level Rp16.798 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.780,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).

Ibrahim memprediksi, pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS.

Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis dan pasar tenaga kerja yang lebih solid dari perkiraan.

Indeks PMI Jasa ISM AS tercatat melonjak dari 52,6 menjadi 54,4, jauh di atas ekspektasi pasar di level 52,3.

Selain itu, laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) November yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan turun menjadi 7,146 juta dari sebelumnya 7,449 juta pada Oktober. Data ini mengindikasikan pendinginan bertahap permintaan tenaga kerja, namun masih dinilai relatif kuat.

Sementara itu, laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP mencatat penggajian sektor swasta AS meningkat 41.000 pada Desember.

Meski lebih rendah dari perkiraan 47.000, angka tersebut menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan November yang mencatat kehilangan 29.000 pekerjaan.

“Data ini menunjukkan adanya stabilisasi sementara dalam perekrutan tenaga kerja AS menjelang akhir tahun,” jelas Ibrahim.

Ke depan, pelaku pasar juga mencermati rilis Klaim Pengangguran Awal mingguan AS serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Desember yang dijadwalkan rilis Jumat malam.

Data ketenagakerjaan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS sekaligus harga emas global.

Di sisi geopolitik, pasar turut dibayangi rencana mantan Presiden AS Donald Trump yang dikabarkan ingin mengendalikan industri minyak Venezuela dalam beberapa tahun ke depan.

Langkah tersebut bertujuan menekan harga minyak global ke level USD50 per barel.Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), pemerintahan Trump mempertimbangkan pengambilalihan perusahaan minyak milik negara Venezuela, Petróleos de Venezuela SA (PdVSA).

Trump bahkan menyebut Venezuela akan menyerahkan 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS, senilai hingga USD3 miliar.

“Isu geopolitik ini turut menciptakan ketidakpastian global yang berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Ibrahim.

Dari sisi domestik, tekanan rupiah sedikit tertahan oleh peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 mencapai USD156,5 miliar, meningkat signifikan dibandingkan posisi November 2025 sebesar USD150,1 miliar.

Namun demikian, Ibrahim menilai sentimen global masih akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

(Wendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *