Serangan AS ke Venezuela Jadi Amunisi Diplomatik China, Analis Nilai Invasi Taiwan Belum Dekat

Jakarta – FaktaDataNews 》Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring masih berlanjutnya konflik di sejumlah kawasan dunia.

Perseteruan dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan China, kembali menjadi sorotan setelah Washington melancarkan serangan militer ke Venezuela di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Langkah militer AS tersebut diprediksi akan dimanfaatkan China untuk memperkuat narasi dan klaim teritorialnya, mulai dari isu Taiwan hingga sengketa di Laut China Selatan (LCS).

Meski demikian, para analis menilai aksi Washington itu tidak akan secara langsung mempercepat langkah Beijing untuk melancarkan invasi militer ke Taiwan dalam waktu dekat.

Melansir laporan Reuters, Sabtu (10/1/2026), sejumlah pakar hubungan internasional menilai bahwa Presiden China Xi Jinping tetap berpegang pada linimasa dan pertimbangan domestik dalam menyikapi isu Taiwan.

Namun, intervensi AS di Amerika Latin dinilai memberi “amunisi diplomatik” baru bagi Beijing di panggung internasional.

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS disebut sebagai peluang strategis bagi China untuk memperkeras kritik terhadap Washington.

Beijing diperkirakan akan menggunakan insiden ini untuk menyoroti apa yang mereka anggap sebagai standar ganda AS dalam menegakkan hukum internasional.

William Yang, analis dari International Crisis Group, menyatakan bahwa selama ini AS kerap menuduh China melanggar hukum internasional. Namun, serangan militer ke Venezuela justru dinilai melemahkan legitimasi moral Washington.

“Ini menciptakan banyak celah dan amunisi murah bagi China untuk melawan AS di masa depan, baik terkait Taiwan, Tibet, maupun sengketa wilayah di Laut China Timur dan Selatan,” ujar Yang.

Kementerian Luar Negeri China secara resmi mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang mengancam stabilitas kawasan Amerika Latin. Kantor berita resmi China, Xinhua, bahkan melabeli tindakan AS sebagai bentuk nyata perilaku hegemonik.

Meski tekanan militer China terhadap Taiwan terus meningkat—termasuk melalui latihan perang skala besar yang mengepung pulau tersebut—para analis menilai Beijing tidak akan meniru langkah militer AS dalam waktu dekat.

Profesor Hubungan Internasional Universitas Renmin Beijing, Shi Yinhong, menegaskan bahwa ambisi China terhadap Taiwan lebih ditentukan oleh kesiapan dan kapabilitas militernya sendiri, bukan oleh aksi militer AS di kawasan lain.

Pandangan serupa disampaikan analis Asia Society, Neil Thomas, yang menilai China tidak akan menggunakan kasus Venezuela sebagai preseden hukum.

Menurutnya, Beijing selalu menganggap Taiwan sebagai urusan internal, sementara serangan AS ke Venezuela merupakan intervensi terhadap negara berdaulat.

“China justru ingin tampil kontras dengan AS, sebagai pihak yang mengedepankan perdamaian dan kepemimpinan moral di mata dunia,” ujar Thomas.

Dari Taiwan, anggota senior parlemen dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Wang Ting-yu, menolak keras perbandingan antara Taiwan dan Venezuela.

“China tidak pernah kekurangan niat buruk terhadap Taiwan, tetapi mereka kekurangan cara yang layak untuk melakukannya. China bukan Amerika Serikat, dan Taiwan jelas bukan Venezuela,” tegas Wang melalui media sosial.

Meski invasi dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat, situasi geopolitik ini tetap meningkatkan risiko keamanan bagi Taiwan.

Pemerintah Taipei diperkirakan akan semakin berada di bawah tekanan untuk memperkuat hubungan dan mencari perlindungan dari pemerintahan Trump.

Sementara itu, diskusi di media sosial China seperti Weibo menunjukkan respons beragam. Sejumlah warganet bahkan mendorong Beijing untuk mencontoh ketegasan Washington.

Namun, para pengamat memperingatkan bahwa efek jangka panjang dari aksi militer AS ini tetap berpotensi berbahaya.

Profesor Ilmu Politik National Taiwan University, Lev Nachman, menilai bahwa tindakan Trump bisa menjadi modal naratif bagi Xi Jinping di masa depan.

“Apa yang dilakukan Trump berpotensi membantu membangun pembenaran yang lebih kuat bagi tindakan militer China terhadap Taiwan di kemudian hari,” pungkasnya.

(Wendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *