Dari Anak Petani hingga Kepala Diskominfo Banten, Beni Ismail Ungkap Perjalanan Hidup Penuh Perjuangan

SERANG – FaktaDataNews 》Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Banten, Beni Ismail, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan sebelum akhirnya mengabdi sebagai aparatur sipil negara.

Lahir dari keluarga petani sederhana di Bandung, Jawa Barat, Beni tumbuh dalam keterbatasan ekonomi yang membentuk karakter tangguh dan semangat pantang menyerah.

Beni Ismail lahir dan besar di Bandung. Ia menempuh pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di kota kelahirannya, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi di Jatinangor.

Dalam perbincangannya , Rabu (21/1/2025), Beni mengenang perjalanan panjangnya hingga lulus dari Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) pada tahun 1999, yang kini dikenal sebagai Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

“Ini flashback ke belakang ya. Saya memang lulus STPDN tahun 1999. Saya lahir dari keluarga petani di Bandung, sekolah dari SD, SMP, SMA di Bandung, dan kuliah pun hanya bergeser sedikit ke Jatinangor,” ujar Beni.

Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Beni merasakan betul beratnya perjuangan orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Ayahnya hanya memiliki lahan pertanian terbatas yang ditanami padi dan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga biaya pendidikan menjadi tantangan besar.

“Dengan saudara lima orang dan saya anak pertama, itu memang struggle betul,” ungkapnya.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Margahayu, Beni sempat diterima di Universitas Diponegoro melalui jalur PMDK pada tahun 1994.

Namun keterbatasan biaya memaksanya mengubur mimpi tersebut. Ia pun harus menjalani masa menganggur selama satu tahun.

“Karena keterbatasan itu tidak bisa diambil, saya sempat nganggur setahun. Akhirnya saya berpikir, dengan kondisi seperti ini saya harus mencari sekolah yang gratis,” kenangnya.

Titik balik datang ketika seorang teman mengajaknya mendaftar ke STPDN. Saat itu, Beni bahkan belum memahami sepenuhnya apa itu STPDN yang identik dikenal sebagai “sekolah camat”.

“Saya ikut teman daftar. Walaupun waktu itu bapak saya juga tidak mengarahkan saya jadi PNS,” tuturnya.

Beni mengikuti seluruh proses seleksi secara diam-diam hingga akhirnya dinyatakan lolos setelah tahap pantohir di Jatinangor. Barulah setelah itu ia meminta izin orang tua untuk melanjutkan pendidikan.

Motivasi terbesarnya justru datang dari pengalaman pahit selama masa menganggur. Sebuah ucapan tetangga menjadi cambuk yang membangkitkan semangatnya.

“Ada tetangga yang bilang ke anaknya, ‘Sudah nggak usah lanjut SMA, tuh Beni aja yang pintar sekarang nganggur.’ Itu benar-benar menohok dan jadi trigger saya untuk sungguh-sungguh mengejar cita-cita,” kata Beni.

Kisah hidup Beni Ismail menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih kesuksesan, selama dibarengi tekad, kerja keras, dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan.

(Saudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *