
Lebak – FaktaDataNews 》Kondisi memprihatinkan Ruas Jalan Nasional Rangkasbitung–Cipanas kembali memakan korban. Dua jurnalis media online asal Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengalami kecelakaan tunggal akibat jalan berlubang yang hingga kini dibiarkan tanpa perbaikan serius, Kamis (05/02/2026).
Sepeda motor yang dikendarai Agus dengan Achmad sebagai penumpang kehilangan kendali setelah menghantam lubang cukup dalam di wilayah Sijara, saat melaju dari arah Cipanas menuju Rangkasbitung.
Benturan keras membuat keduanya terjatuh ke badan jalan dan mengalami luka di bagian kaki serta tangan.

Usai kejadian, kedua korban langsung dilarikan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Pajagan untuk mendapatkan penanganan medis.
Agus menuturkan, lubang berbahaya tersebut berada tepat setelah tikungan, sehingga nyaris mustahil dihindari oleh pengendara.
“Lubangnya cukup dalam dan posisinya pas setelah tikungan. Dari jauh tidak kelihatan, jadi saya tidak sempat menghindar,” ujar Agus.
Keterangan warga setempat memperkuat fakta bahwa kecelakaan akibat jalan berlubang di ruas tersebut bukan kali pertama terjadi. Bahkan, insiden serupa disebut kerap dialami pengendara, khususnya roda dua.

“Sering banget kejadian, Pak. Baru beberapa hari lalu juga ada yang jatuh di sini. Hampir tiap minggu,” ungkap seorang warga.
Ironisnya, warga mengaku sudah berkali-kali melihat petugas mendatangi lokasi. Namun, kehadiran tersebut dinilai hanya sebatas pendataan dan dokumentasi, tanpa diikuti perbaikan nyata.
“Datang, foto-foto, dicatat, habis itu pergi. Sampai sekarang lubangnya masih sama. Kami takut, karena sering bikin kaget pengendara,” tambah warga lainnya.
Perlu diketahui, Ruas Jalan Nasional Rangkasbitung–Cipanas berada di bawah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Banten, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Penanganan perbaikan juga melibatkan SKPD Tugas Perbantuan (TP) DPUPR Provinsi Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum terlihat adanya perbaikan permanen di titik rawan kecelakaan tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen dan kecepatan respons instansi terkait dalam menjamin keselamatan pengguna jalan, terlebih setelah korban terus berjatuhan.
(Wendi)
